Langsung ke konten

Akuntansi

Jurnal Akuntansi Kontraktor: Contoh Jurnal Uang Muka, Termin, Retensi, dan PPh Final

Akuntansi kontraktor berbeda dari usaha dagang karena pendapatan diakui bertahap mengikuti progres, sebagian tagihan ditahan sebagai retensi, dan pajaknya bersifat final. Berikut akun-akun khasnya dan contoh jurnal satu siklus termin.

Tim Kurvas · · 2 menit baca

Akun khas di perusahaan kontraktor

Akun yang sering dipakai kontraktor
AkunJenisDipakai untuk
Uang muka dari pemberi kerjaLiabilitasUang muka kontrak yang belum dikembalikan lewat potongan termin
Piutang usaha (termin)AsetTagihan termin yang belum dibayar
Piutang retensiAsetBagian tagihan yang ditahan sampai masa pemeliharaan selesai
Pajak dibayar di muka PPh finalAset atau bebanPPh final yang dipotong pemberi kerja, sesuai kebijakan akuntansi perusahaan
PPN keluaranLiabilitasPPN atas tagihan termin
Pendapatan kontrakPendapatanNilai pekerjaan yang diakui sesuai progres
Biaya proyek (per proyek)BebanMaterial, upah, subkon, alat, dan biaya tidak langsung proyek

Ilustrasi transaksi

Memakai angka ilustrasi yang sama dengan contoh tagihan termin: kontrak Rp2.000.000.000 sebelum PPN, uang muka Rp400.000.000, termin pertama untuk progres 30%, potongan uang muka Rp120.000.000, retensi Rp30.000.000, PPN efektif 11%, dan PPh final 2,65%. Perlakuan PPN dan PPh atas uang muka di contoh ini disederhanakan; ikuti arahan konsultan pajak Anda.

1. Menerima uang muka dari pemberi kerja

Jurnal penerimaan uang muka (disederhanakan)
AkunDebitKredit
Kas/BankRp400.000.000
Uang muka dari pemberi kerjaRp400.000.000

2. Mengakui termin pertama dan menerbitkan tagihan

Jurnal invoice termin pertama
AkunDebitKredit
Piutang usaha (termin)Rp499.500.000
Piutang retensiRp30.000.000
Uang muka dari pemberi kerjaRp120.000.000
Pendapatan kontrakRp600.000.000
PPN keluaranRp49.500.000

3. Menerima pembayaran setelah dipotong PPh final

Jurnal penerimaan pembayaran termin
AkunDebitKredit
Kas/BankRp487.575.000
Beban PPh final (atau pajak dibayar di muka)Rp11.925.000
Piutang usaha (termin)Rp499.500.000

4. Mencairkan retensi setelah masa pemeliharaan

Jurnal pencairan retensi (PPh dan PPN atas retensi mengikuti saat pembayaran)
AkunDebitKredit
Kas/Banksesuai pembayaran
Piutang retensiRp30.000.000

5. Mencatat biaya proyek

Setiap pembelian material, opname subkon, upah, dan sewa alat dicatat ke akun biaya proyek dengan kode proyek. Tanpa kode proyek, laporan laba rugi perusahaan bisa dibuat, tetapi margin tiap proyek tidak bisa dibandingkan dengan RAP.

Laba rugi per proyek

Pemilik perusahaan kontraktor biasanya bertanya "proyek mana yang untung?" lebih sering daripada "berapa laba perusahaan bulan ini?". Jawaban itu hanya tersedia bila pendapatan, biaya, piutang, dan retensi dicatat per proyek sejak awal, lalu dibandingkan dengan RAP dan progres. Cara membaca selisihnya dijelaskan di panduan cost control proyek.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah uang muka proyek dicatat sebagai pendapatan?

Tidak. Uang muka dari pemberi kerja dicatat sebagai liabilitas, lalu berkurang setiap kali dipotong dari tagihan termin.

Retensi dicatat di akun apa?

Retensi yang ditahan pemberi kerja dicatat sebagai piutang retensi, terpisah dari piutang termin, sampai dicairkan setelah masa pemeliharaan.

Mengapa biaya harus dicatat per proyek?

Supaya margin setiap proyek bisa dibandingkan dengan RAP dan progresnya. Tanpa kode proyek, hanya laba perusahaan secara total yang terlihat.

Mau lihat ini berjalan di Kurvas?

Jadwalkan demo. Kami tunjukkan dengan contoh angka seperti di artikel, memakai alur perusahaan Anda.

Lihat sistemnya terlebih dahulu sebelum menentukan paket yang sesuai.