Akun khas di perusahaan kontraktor
| Akun | Jenis | Dipakai untuk |
|---|---|---|
| Uang muka dari pemberi kerja | Liabilitas | Uang muka kontrak yang belum dikembalikan lewat potongan termin |
| Piutang usaha (termin) | Aset | Tagihan termin yang belum dibayar |
| Piutang retensi | Aset | Bagian tagihan yang ditahan sampai masa pemeliharaan selesai |
| Pajak dibayar di muka PPh final | Aset atau beban | PPh final yang dipotong pemberi kerja, sesuai kebijakan akuntansi perusahaan |
| PPN keluaran | Liabilitas | PPN atas tagihan termin |
| Pendapatan kontrak | Pendapatan | Nilai pekerjaan yang diakui sesuai progres |
| Biaya proyek (per proyek) | Beban | Material, upah, subkon, alat, dan biaya tidak langsung proyek |
Ilustrasi transaksi
Memakai angka ilustrasi yang sama dengan contoh tagihan termin: kontrak Rp2.000.000.000 sebelum PPN, uang muka Rp400.000.000, termin pertama untuk progres 30%, potongan uang muka Rp120.000.000, retensi Rp30.000.000, PPN efektif 11%, dan PPh final 2,65%. Perlakuan PPN dan PPh atas uang muka di contoh ini disederhanakan; ikuti arahan konsultan pajak Anda.
1. Menerima uang muka dari pemberi kerja
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Kas/Bank | Rp400.000.000 | |
| Uang muka dari pemberi kerja | Rp400.000.000 |
2. Mengakui termin pertama dan menerbitkan tagihan
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Piutang usaha (termin) | Rp499.500.000 | |
| Piutang retensi | Rp30.000.000 | |
| Uang muka dari pemberi kerja | Rp120.000.000 | |
| Pendapatan kontrak | Rp600.000.000 | |
| PPN keluaran | Rp49.500.000 |
3. Menerima pembayaran setelah dipotong PPh final
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Kas/Bank | Rp487.575.000 | |
| Beban PPh final (atau pajak dibayar di muka) | Rp11.925.000 | |
| Piutang usaha (termin) | Rp499.500.000 |
4. Mencairkan retensi setelah masa pemeliharaan
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Kas/Bank | sesuai pembayaran | |
| Piutang retensi | Rp30.000.000 |
5. Mencatat biaya proyek
Setiap pembelian material, opname subkon, upah, dan sewa alat dicatat ke akun biaya proyek dengan kode proyek. Tanpa kode proyek, laporan laba rugi perusahaan bisa dibuat, tetapi margin tiap proyek tidak bisa dibandingkan dengan RAP.
Laba rugi per proyek
Pemilik perusahaan kontraktor biasanya bertanya "proyek mana yang untung?" lebih sering daripada "berapa laba perusahaan bulan ini?". Jawaban itu hanya tersedia bila pendapatan, biaya, piutang, dan retensi dicatat per proyek sejak awal, lalu dibandingkan dengan RAP dan progres. Cara membaca selisihnya dijelaskan di panduan cost control proyek.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah uang muka proyek dicatat sebagai pendapatan?
Tidak. Uang muka dari pemberi kerja dicatat sebagai liabilitas, lalu berkurang setiap kali dipotong dari tagihan termin.
Retensi dicatat di akun apa?
Retensi yang ditahan pemberi kerja dicatat sebagai piutang retensi, terpisah dari piutang termin, sampai dicairkan setelah masa pemeliharaan.
Mengapa biaya harus dicatat per proyek?
Supaya margin setiap proyek bisa dibandingkan dengan RAP dan progresnya. Tanpa kode proyek, hanya laba perusahaan secara total yang terlihat.

